Biopori, Alternatif yang Solutif

Biopori, Alternatif yang Solutif

Banjir acap kali menjadi bencana langganan di hampir seluruh kota-kota besar negara Indonesia setiap tahunnya, apalagi pada musim penghujan seperti saat ini. Tidak heran, beberapa minggu terakhir bencana banjir menjadi berita utama dalam headline media massa. Yang tidak pernah luput dari sorotan adalah Kota Jakarta yang saat ini menjadi Kota tergenang. Hebatnya lagi, tahun ini mengukir sejarah sebagai banjir paling parah yang pernah melanda ibukota. Banyak penyebab banjir yang membuat pemerintah tidak bisa berbuat banyak kecuali mengevakuasi para korban banjir. Salah satu penyebabnya adalah tingginya pertumbuhan pembangunan di Ibukota tanpa memperhatikan ruang terbuka hijau yang menjadikan banjir tak terelakkan setiap tahunnya. Bangunan tinggi menjulang, beton-beton yang dapat menutupi lapisan tanah menjadikan air tidak dapat meresap ke tanah dengan baik. Di beberapa kota besar di Indonesia seperti di Jakarta telah memiliki tanah yang jenuh. Bila tanah sudah jenuh, maka akan sulit untuk meresap air. Hal ini diperparah dengan kurangnya daerah resapan air.

Salah satu solusi agar banjir dapat diatasi yakni adanya daerah resapan air yang cukup untuk menampung air hujan. Daerah resapan air dapat dibuat dengan menerapkan teknologi lubang resapan biopori. Bila di kota metropolitan seperti Jakarta menerapkan sistem biopori tiap gedung atau rumah, maka bukan tidak mungkin dapat mengurangi banjir di Ibukota negara kita. Teknologi ini tergolong cukup mudah, hanya perlu melubangi tanah menggunakan bor biopori sedalam dua meter dengan diameter 12 cm. Kemudian mengisi lubang tersebut dengan daun-daun, ranting atau apapun yang dapat diuraikan oleh cacing tanah dan mikroorganisme. Selain dapat meresap air hujan, juga dapat menyuburkan tanah.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biopori, Alternatif yang Solutif"

Post a Comment

Silahkan berkomentar :)
saran dan masukan sangat berarti bagi kita semua
let's share knowledge together ^^