Penyesuaian Diri Peserta Didik Usia Menengah (PDUSM)

A.      Impikasi Proses Penyesuaian Diri PDUSM Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa remaja. Selain mengemban fungsi pengajaran, sekolah juga mengemban fungsi pendidikan (transformasi nilai dan norma sosial). Dalam kaitan dengan pendidikan, peran sekolah tidak jauh berbeda dengan peran keluarga, yaitu sebagai tempat perlindungan jika anak mengalami masalah. Oleh karena itu, di setiap sekolah lanjutan diadakan guru bimbingan dan penyuluhan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
       Upaya yang dapat dilakukan untuk memperlancar proses penyesuaian diri remaja di sekolah adalah sebagai berikut :
1.      Menciptakan situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa betah bagi siswa, baik secara sosial, fisik maupun akademis.
2.      Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan bagi siswa.
3.      Berusaha memahami siswa secara menyeluruh, baik prestasi belajar, sosial, maupun aspek pribadinya.
4.      Menggunakan metode dan alat mengajar yang mendorong gairah belajar.
5.      Menggunakan prosedur evaluasi yang dapat memperbesar motivasi belajar.
6.      Menciptakan ruangan kelas yang memenuhi syarat kesehatan.
7.      Membuat tata tertib sekolah yang jelas dan dipahami siswa.
8.      Adanya keteladanan dari para guru dalam segala aspek pendidikan.
9.      Mendapatkan kerja sama dan saling pengertian dari para guru dalam menjalankan kegiatan pendidikan.
10.  Melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan yang sebaik-baiknya.


B.       Masalah Penyesuaian Diri Peserta Didik Usia Menengah (PDUSM)
Persoalan umum yang sering dihadapi peserta didik usia remaja di dalam kehidupan sehari-hari dan dalam proses penyesuaian diri atau pergaulan adalah masalah hubungan remaja dengan orang dewasa atau orang tua. Perkembangan penyesuaian diri remaja sangat bergantung pada sikap penolakan orang tua, suasana psikologi dan hubungan sosial dalam kehidupan keluarga.
Menurut Zakiah Derajad (1983) yang dikutip dari Boldwyn : “Bapak yang menolak anaknya akan berusaha menundukkan anaknya dengan kaidah-kaidah kekerasan, karena itu ia mengambil ukuran kekerasan, kekejaman tanpa alasan nyata.
Masalah penyesuaian diri peserta didik usia remaja disebabkan oleh:
1.      A. Penolakan orang tua terhadap anaknya, dibagi dua macam, yaitu:
a.      Penolakan yang bersifat sejak awal karena orang tua tidak menghendaki kelahirannya. Bisa juga karena anak mengalami cacat fisik sejak lahir sehingga orang tua enggan menerima kehadiran anak tersebut.
b.      Penolakan karena pura-pura tidak tahu keinginan anak atau masalah anak (orang tua yang memikirkan kepentingannya sendiri). Akibat penolakan tersebut, remaja tidak dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat atau teman pergaulannya secara sehat dan cenderung menghabiskan waktunya diluar rumah ataupun mengunci diri di dalam kamar.
2.      Sikap orang tua yang memberikan perlindungan berlebihan.
Remaja yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang secara berlebihan akan menyebabkan remaja tidak dapat mandiri, selalu mengharapkan perhatian dan bantuan orang lain.
3.   Kondisi keluarga yang tidak kondusif.
a.      Sikap orang tua yang otoriter.
Orang tua yang bersifat otoriter kepada remaja dapat menghambat proses penyesuaian diri mereka. Sebagai akibatnya remaja akan bersikap berani melawan orang tua, bersikap otoriter kepada teman baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Sehingga mereka akan cenderung dibenci dan tidak diakui.
b.      Orang tua yang tidak bisa dijadikan panutan.
Misal, orang tua yang sering kawin cerai, kumpul kebo, terlibat tindak kejahatan, korupsi, narkoba dll. Hal ini tentu membuat remaja cenderung akan mengalami masalah emosional, suka marah, menyendiri, dan sering gelisah dari pada remaja yang berasal dari keluarga yang harmonis.
c.       Status pekerjaan orang tua.
Misal, seorang ayah yang menganggur, orang tua yang memiliki pekerjaan yang memalukan seperti mucikari, pelacur dll. Kerja yang dipandang rendah seperti tukang sampah, tukang sol sepatu keliling, tukang pos, cleaning service, dll. Ini biasanya bisa menyebabkan masalah penyesuaian diri remaja dimana remaja merasa minder dan merasa rendah dalam pergaulannya dan dalam kalangan masayarakat.
4.      Kondisi keluarga yang terbatas.
Kondisi ini menyebabkan pemberian fasilitas yang sangat terbatas dari orang tua. Anak-anak dari keluarga yang terbatas umumnya banyak menahan keinginannya karena orang tua kurang bisa mendukung pemenuhan kebutuhannya. Kondisi yang seperti ini bisa menyebabkan remaja merasa minder karena mereka merasa “tidak sama” dengan teman-temannya yang lain.
5.      Perlakuan yang buruk dari lingkungan.
Perlakuan buruk ini bisa berupa perbedaan perlakuan antar anak. Perlakuan ini memungkinkan munculnya perasaan iri sehingga akan membuat proses penyesuaian diri remaja dalam lingkungan keluarga tidak lancar ataupaun bahkan terhambat.
Perlakuan buruk juga bisa dilakukan oleh orang yang berpengaruh besar terhadap anak, selain orang tua dan para saudara misalnya pengasuh atau guru. Lingkungan terdekat yang sangat berpengaruh ini akan membentuk konsep diri anak. Berbagai senyuman, pujian, dan dukungan akan menyebabkan remaja merasa diterima dan mempunyai konsep diri yang positif. Sebaliknya, ejekan, cemoohan, hardikan, penelantaran akan menyebabkan remaja merasa tidak diterima dan akan mengembangkan konsep diri yang negatif.
Adapun masalah penyesuaian diri bagi remaja yaitu ketika remaja sering berpindah tempat tinggal. Hal ini tentunya remaja juga harus pindah sekolah yang akhirnya remaja akan mengalami banyak kesukaran dalam penyesuaian dirinya. Akibatnya dia menjadi tidak dikenal dan tidak ada yang memperhatikan dan mungkin juga akan mengalami masalah penyesuaian diri dengan guru, teman dan mata pelajaran. Disinilah remaja dituntut untuk lebih mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan masyarakat yang baru.
Persoalan yang umum dan sering dihadapi oleh remaja yaitu memilih sekolah. Seharusnya, agar remaja mempunyai penyesuaian diri yang baik, orang tua tidak boleh mendikte anak agar masuk ke sekolah tertentu. Orang tua dan guru seharusnya mengarahkan pilihan sekolah yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan anak. Tidak jarang anak sering tidak mau sekolah, tidak mau belajar, suka membolos karena dipaksa orang tua untuk masuk sekolah yang tidak dia sukai.




                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      


C.      Karakteristik Masalah PDUSM
Masa remaja bagi remaja itu sendiri dalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Tetapi lain lagi bagi orang tua, mereka beranggapan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orang tua dan remaja itu sendiri. Dari kedua peristiwa tersebut dapat disimpulkan, remaja adalah waktu yang kritis sebelum menghadapi hidup sebagai orang dewasa.
Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasan usia maupun perannya sering tidak terlalu jelas. Seperti pubertas yang dahulu diperkirakan terjadinnya sekitar umur 15-18 tahun, kini terjadi pada awal belasan, bahkan sebelum 11 tahun. Namun dalam usia seperti itu tidak berarti anak tersebut sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa.
Remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya, sering mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi dilain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa. Namun, satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk memahami remaja, perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut, yaitu:
1.         Dimensi Biologis
Secara biologis, remaja mengalami perubahan yang sangat besar (puber) seperti perubahan suara pada remaja putra atau mulainya menstruasi pada remaja putri. Pubertas menjadikan seorang anak memiliki kemampuan untuk bereproduksi.
2.         Dimensi kognitif
Menurut pandangan Jean Piaget perkembangan kognitif remaja merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal. Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi dimensi seperti ilmuan.
3.         Dimensi moral
Masa remaja adalah periode saat seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan linkungan mereka. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya.
Kemampuan berpikir dalam dimensi moral pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidaksimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada disekitarnya. Perubahan inilah yang mendasari sikap “pemberontakan” remaja terhadap peraturan atau otoritas yang sebelumnya diterima bulat-bulat.
4.         Dimensi psikologis
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood bisa berubah dengan cepat. Meskipun mood remaja mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.
Ada beberapa cara yang digunakan oleh remaja untuk mengenali atau menemukan jatidiri atau identitas atau untuk mengenali diri sendiri, adalah sebagai berikut:
a)      Dengan menggunakan proses “ percobaan peran”
b)      Dengan cara menggunakan tes-tes psikologi atau yang dikenal dengan sebutan tes minat dan bakat


D.      Beberapa Masalah Remaja (PDUSM)
Orang dulu bilang, masa remaja adalah masa yang paling indah, masa yang penuh kenangan manis dan meski ada pahitnya, amat berkesan sepanjang masa. Nah, apakah orang jaman sekarang juga menganggap masa remaja adalah masa yang paling indah? Ada kemungkinan jika diteliti, ada sebagian yang mengatakan "ya", tapi sebagian juga mengatakan "tidak" dan ada sebagian lagi yang menganggap "tidak tahu" atau "have no idea". Yang pasti, masa-masa remaja tidaklah semudah dan semanis yang dilihat orang. Iklan selalu lebih bagus dari kenyataan. Ceria di luar belum tentu seceria di dalam; bisa jadi ceria yang di luar untuk menyembunyikan berbagai hal yang berkecamuk di dalam.
Sebenarnya, apa sebenarnya masalah yang sering membuat gundah remaja? Kalau ditanya, banyak yang hanya mendelikkan mata, angkat bahu atau menggelengkan kepala. Entah karena malas untuk dipikirkan atau pun terlalu rumit untuk dijawab. Tapi secara umum, ada beberapa hal jika diuraikan :
1.      Problem dengan teman
Remaja sering dipusingkan dengan teman-teman sendiri. Di satu pihak mereka sangat butuh teman untuk jadi tempat curhat, bercanda, bermain, bergaul, atau jadi kebanggaan tersendiri kalau bisa gabung dengan teman-teman itu. Tapi di lain pihak, teman-teman yang sama bisa jadi persoalan ketika mulai ada ketidaksamaan yang sulit dijembatani tanpa menipu diri.
2.      Problem cinta
Jatuh cinta tidak selalu berjuta rasanya, karena banyak lika liku yang dihadapi. Jangan anggap remeh urusan patah hati, karena moment itu bisa membuka pintu berbagai persoalan yang selama ini ditekan, disembunyikan, diabaikan, dsb. Dengan catatan, jika di masa sebelumnya, remaja sudah punya persoalan tersendiri yg kompleks tapi di-repress habis.


3.      Problem akademik
Setiap remaja pasti ingin naik kelas, bahkan kalau bisa jadi juara. Tapi tidak mudah dapat nilai baik, selain pelajarannya sulit, disiplin diri lebih sulit lagi. Belum lagi kalau banyak tugas kelompok dan tugas praktikum bagi yang sudah di SMU atau kuliah.kompetisi di sekolah, bisa menjadi motivator namun ada yang menganggapnya sebagai ancaman.
4.      Problem dengan orang tua dan anggota keluarga lain
Generation gap membuat komunikasi anak dengan orang tua sering on off bahkan kurang nyambung. Beda perspektif, beda pendapat, beda kesenangan, beda kebiasaan, dsb. Selain itu, remaja sering bersitegang dengan orangtua, merasa kurang dimengerti dan terpaksa nurut karena takut. Belum lagi jika orangtua atau anggota keluarga lain yg serumah mengalami masalah berat sampai berpengaruh pada yang lain.
5.      Problem diri sendiri
Remaja sering bingung dengan diri sendiri. Keinginan banyak, realisasi kurang. Remaja juga sering bertanya, “kenapa kok aku beda dengan dia?” “Kenapa aku selalu nggakPD ?” “Kenapa sih aku selalu berubah-ubah? Kenapa emosiku tidak stabil?” Dan masih banyak persoalan yang berakar dari dalam diri.

Tentu tidak mudah menangani problem 5 dimensi. Jangankan remaja, orang dewasa sekalipun banyak yang tidak sukses mengelola problem-problem tersebut. Tidak jarang, cara-cara yang dilakukan untuk mengatasi problem malah menimbulkan problem baru.
Krisis dan masalah sering membuat perasaan kita jadi tidak enak, gelisah, sedih, marah, dsb. Hampir dipastikan ada reaksi spontan dari dalam diri untuk mengatasi ketidaknyamanan itu. Mulai dari tindakan ringan sampai ekstrim. Masalahnya, apakah tindakan itu menyelesaikan masalah, atau sekedar mengobati perasaan; atau keduanya, atau tidak keduanya - alias, tidak menyelesaikan masalah dan tidak juga mengobati perasaan. Beberapa cara yang umum dilakukan saat remaja mengalami krisis :
  • Makan, nonton, jalan-jalan
  • Mengurung diri and do nothing, hanya melamun, menangis, mengkhayal
  • Marah-marah, berantemin orang-orang dan melampiaskan emosi pada orang lain atau pada benda-benda di sekelilingnya
  • Makin gencar ollah raga dan aktivitas fisik lainnya, seperti renang, tennis, lari, bersepeda, naik gunung,  martial art, dsb
  • Tidur
  • Curhat dengan teman,sms, fb-an, menelpon sana sini
  • Baca buku, prakarya (artcraft), main musik, ciptain lagu dan syair, bikin puisi, menggambar, membuat kue, memasak, berkebun, menulis buku harian, dsb
  • Beres-beres dan bersih-bersih
  • Merokok
  • Mabuk-mabukkan dan menggunakan narkoba
  • Mengurus hewan peliharaan
  • Mengurus / utak atik mekanik mobil, motor atau mesin atau bahkan bikin perabotan kecil-kecilan
  • Self-sabotage /sabotase diri, seperti tidak makan, tidak mau belajar, tidak sekolah/kuliah, tidak mau mandi, dsb
  • Pornografi dan gameografi
Masih banyak reaksi tindakan lain, namun kalau dikategorikan sebenanrnya hanya ada 2 macam : destruktif atau konstruktif. Yang destruktif jelas merugikan diri sendiri dan sudah tentu merepotkan orang lain; sebaliknya, yang konstruktif memberikan efek positif paling tidak bagi diri sendiri. Emosi surut, ada hasil yang bisa dinikmati pula, apalagi jika orang lain juga kena manfaatnya.
Masalahnya, tidak semua remaja bisa punya cara konstruktif. Jaman sekarang ini, kegiatan positif seperti mengerjakan hobi dan ketrampilan, sepertinya sudah banyak ditinggalkan, dan diganti dengan hang out untuk sekedar jalan-jalan, nonton, gossip, main game dan on line game, browsing internet, atau tidur-tiduran. Tanpa sadar, miskinnya kegiatan ini membuat remaja bukan saja jadi malas, tapi jadi tidak percaya diri ketika berhadapan dengan masalah.
Tentu saja mereka-mereka  ini mudah panik dan cemas, takut dan bingung kalau tiba-tiba kena masalah. Biasanya, mereka mencoba mengandalkan bantuan teman-teman; ya kalau punya teman. Celakanya kalau tidak punya teman, mau bicara dengan siapa? Mau minta tolong dengan siapa? Yang punya teman pun belum tentu problemnya bisa beres karena teman-teman mereka kebanyakan berkebiasaan yang sama. Makan, nonton, jalan, shopping, gossip, gaming, nongkrong..solusi apa yang bisa muncul dari situ? Hiburan sesaat mungkin ya, tapi bukan solusi. Bahkan kalau dipikir panjang, kebiasaan-kebiasaan itu kan mahal, butuh biaya. Jadi bisa dibayangkan, kalau reaksi tindakan tersebut bakal tidak efektif selain mahal, juga tidak memberi jalan keluar.
Sementara, remaja-remaja yang punya kebiasaan dan kegiatan konstruktif, menyalurkan emosi dan keresahan pada kegiatannya tersebut. Secara psikologis, ketika emosi tersalur dengan cara dan media positif, tidak sekedar membantu menenangkan pikiran, meredakan ketegangan dan menurunkan stress. Kegiatan konstruktif justru membantu otak membuka kebuntuan-kebuntuan alternatif. Dikala emosi disalurkan dan dikelola secara positif, otak tetap aktif bekerja sehingga sering kita menemukan jawaban atas pertanyaan diri, menemukan insight atas masalahnya, melihat makna dan tujuan, bahkan melihat beberapa alternatif jalan keluar yang bisa dicoba. Maka, lain halnya, kalau badan dan otak di pasif-kan.

Akibat Jika Masalah Dibiarkan Berlarut-larut
Beberapa keluhan yang sering dialami remaja, seperti sulit konsentrasi, kehilangan motivasi dan semangat, nilai pelajaran turun, dijauhi teman, makin suka mengkhayal dan berfantasi, terlibat hubungan homoseksual atau lesbian, kecanduan minum atau drugs, pornografi, onani/masturbasi, depresi, hingga terlibat tindakan yang bisa membahayakan jiwa dirinya seperti ingin bunuh diri atau membahayakan orang lain, seperti agresi.  Masalahnya, dengan tidak melakukan apa-apa, masalah tetap ada bahkan bertambah kompleks karena ketambahan masalah harian lain. Nah, kalau sudah begini, tentu saja remaja merasa masalah lebih besar dari dirinya. Remaja makin merasa terbeban, tertekan, inferior dan stress. Kerentanan ini lah yang menyebabkan remaja gampang sekali kena bujuk entah ikut kelompok radikal atau terjerumus dalam tindakan melanggar hukum, serta terjerat lingkaran narkoba.
Menghadapi pertanyaan orang tua, terutama, menjadi masalah yang luar biasa besarnya. Remaja jadi kian sensi jika orang tua mulai khawatir dan sering memberi wejangan. Yang sering terjadi, remaja merasa orang tua tidak mau mengerti, sementara orang tua merasa anaknya tidak mau terbuka. Komplit sudah masalahnya!

E.       Penanganan Masalah Remaja Dengan Cara Mekanisme Pertahanan Diri
Sebagian dari cara individu mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stress atau pun konflik adalah dengan melakukan mekanisme pertahanan diri baik yang ia lakukan secara sadar atau pun tidak. Hal ini sesuai dengan pendapat dikemukakan oleh Freud sebagai berikut : 
Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Jadi, mekanisme pertahanan diri melibatkan unsur penipuan diri.
Berikut ini beberapa mekanisme pertahanan diri yang biasa terjadi dan dilakukan oleh sebagian besar individu, terutama para remaja yang sedang mengalami pergulatan yang dasyat dalam perkembangannya ke arah kedewasaan.
1.      Represi
Represi didefinisikan sebagai upaya individu untuk menyingkirkan frustrasi, konflik batin, mimpi buruk, krisis keuangan dan sejenisnya yang menimbulkan kecemasan. Bila represi terjadi, hal-hal yang mencemaskan itu tidak akan memasuki kesadaran walaupun masih tetap ada pengaruhnya terhadap perilaku. Sudah menjadi umum banyak individu pada dasarnya menekankan aspek positif dari kehidupannya. Beberapa bukti, misalnya :
a.       Iindividu cenderung untuk tidak berlama-lama untuk mengenali sesuatu yang tidak menyenangkan, dibandingkan dengan hal-hal yang menyenangkan.
b.      berusaha sedapat mungkin untuk tidak melihat gambar kejadian yang menyesakkan dada.
c.       Lebih sering mengkomunikasikan berita baik daripada berita buruk.
d.      Lebih mudah mengingat hal-hal positif daripada yang negatif.
e.       Lebih sering menekankan pada kejadian yang membahagiakan dan enggan menekankan yang tidak membahagiakan.

2.      Supresi
Supresi merupakan suatu proses pengendalian diri yang terang-terangan ditujukan menjaga agar impuls-impuls dan dorongan-dorongan yang ada tetap terjaga (mungkin dengan cara menahan perasaan itu secara pribadi tetapi mengingkarinya secara umum). Individu sewaktu-waktu mengesampingkan ingatan-ingatan yang menyakitkan agar dapat menitik beratkan kepada tugas, ia sadar akan pikiran-pikiran yang ditindas (supresi) tetapi umumnya tidak menyadari akan dorongan-dorongan atau ingatan yang ditekan (represi)

3.      Reaction Formation (Pembentukan Reaksi)
Individu dikatakan mengadakan pembentukan reaksi adalah ketika dia berusaha menyembunyikan motif dan perasaan yang sesungguhnya (mungkin dengan cara represi atau supresi), dan menampilkan ekspresi wajah yang berlawanan dengan yang sebetulnya. Dengan cara ini individu tersebut dapat menghindarkan diri dari kecemasan yang disebabkan oleh keharusan untuk menghadapi ciri-ciri pribadi yang tidak menyenangkan. Kebencian, misalnya tak jarang dibuat samar dengan menampilkan sikap dan tindakan yang penuh kasih sayang, atau dorongan seksual yang besar dibuat samar dengan sikap sok suci, dan permusuhan ditutupi dengan tindak kebaikan.

4.      Fiksasi
Dalam menghadapi kehidupannya individu dihadapkan pada suatu situasi menekan yang membuatnya frustrasi dan mengalami kecemasan, sehingga membuat individu tersebut merasa tidak sanggup lagi untuk menghadapinya dan membuat perkembangan normalnya terhenti untuk sementara atau selamanya. Dengan kata lain, individu menjadi terfiksasi pada satu tahap perkembangan karena tahap berikutnya penuh dengan kecemasan. Individu yang sangat tergantung dengan individu lain merupakan salah satu contoh pertahan diri dengan fiksasi, kecemasan menghalanginya untuk menjadi mandiri. Pada remaja dimana terjadi perubahan yang drastis seringkali dihadapkan untuk melakukan mekanisme ini.

5.      Regresi
Regresi merupakan respon yang umum bagi individu bila berada dalam situasi frustrasi, setidak-tidaknya pada anak-anak. Ini dapat pula terjadi bila individu yang menghadapi  tekanan kembali lagi kepada metode perilaku yang khas bagi individu yang berusia lebih muda. Ia memberikan respons seperti individu dengan usia yang lebih muda (anak kecil). Misalnya  anak yang baru memperoleh adik,akan memperlihatkan respons mengompol atau menghisap jempol tangannya, padahal perilaku demikian sudah lama tidak pernah lagi dilakukannya. Regresi barangkali terjadi karena kelahiran adiknnya dianggap sebagai sebagai krisis bagi dirinya sendiri. Dengan regresi (mundur) ini individu dapat lari dari keadaan yang tidak menyenangkan dan kembali lagi pada keadaan sebelumnya yang dirasakannya penuh dengan kasih sayang dan rasa aman, atau individu menggunakan strategi regresi karena belum pernah belajar respons-respons yang lebih efektif terhadap problem tersebut  atau dia sedang mencoba mencari perhatian



6.      Menarik Diri
Reaksi ini merupakan respon yang umum dalam mengambil sikap. Bila individu menarik diri, dia memilih untuk tidak mengambil tindakan apapun. Biasanya respons ini disertai dengan depresi dan sikap apatis.

7.      Mengelak
Bila individu merasa diliputi oleh stres yang lama, kuat dan terus menerus, individu cenderung untuk mencoba mengelak. Bisa saja secara fisik mereka mengelak atau mereka akan menggunakan metode  yang tidak langsung.

8.      Denial (Menyangkal Kenyataan)
Bila individu menyangkal kenyataan, maka dia menganggap tidak ada atau menolak  adanya pengalaman yang tidak menyenangkan (sebenarnya mereka sadari sepenuhnya) dengan maksud untuk melindungi dirinya sendiri.  Penyangkalan kenyataan juga mengandung unsur penipuan diri.

9.      Fantasi
Dengan berfantasi pada apa yang mungkin menimpa dirinya, individu sering merasa mencapai tujuan dan dapat menghindari dirinya dari peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan kecemasan dan yang mengakibatkan frustrasi. Individu yang seringkali melamun terlalu banyak kadang-kadang menemukan bahwa kreasi lamunannya itu lebih menarik dari pada kenyataan yang sesungguhnya. Tetapi bila fantasi ini dilakukan secara proporsional dan dalam pengendalian kesadaraan yang baik, maka fantasi terlihat menjadi cara sehat untuk mengatasi stres, dengan begitu dengan berfantasi tampaknya menjadi strategi yang cukup membantu.



10.  Rasionalisasi
Rasionalisasi sering dimaksudkan sebagai usaha individu untuk mencari-cari alasan yang dapat diterima secara sosial untuk membenarkan atau menyembunyikan perilakunya yang buruk.  Rasionalisasi juga muncul ketika individu menipu dirinya sendiri dengan berpura-pura menganggap yang buruk adalah baik, atau yang baik adalah yang buruk.

11.  Intelektualisasi
Apabila individu menggunakan teknik intelektualisasi, maka dia menghadapi situasi yang seharusnya menimbulkan perasaan yang amat menekan dengan cara analitik, intelektual dan sedikit menjauh dari persoalan. Dengan kata lain, bila individu menghadapi situasi yang menjadi masalah, maka situasi itu akan dipelajarinya atau merasa ingin tahu apa tujuan sebenarnya supaya tidak terlalu terlibat dengan persoalan tersebut secara emosional. Dengan intelektualisasi, manusia dapat sedikit mengurangi hal-hal yang pengaruhnya tidak menyenangkan bagi dirinya, dan memberikan kesempatan pada dirinya untuk meninjau permasalah secara obyektif.

12.  Proyeksi
Individu yang menggunakan teknik proyeksi ini, biasanya sangat cepat dalam memperlihatkan ciri pribadi individu lain yang tidak dia sukai dan apa yang dia perhatikan itu akan cenderung dibesar-besarkan. Teknik ini  mungkin dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan karena dia harus menerima kenyataan akan keburukan dirinya sendiri. Dalam hal ini, represi atau supresi sering kali dipergunakan pula.

Disamping dengan melakukan pertahanan diri, beberapa hal yang bisa dilakukan remaja jika dirinya mengalami masalah diantaranya adalah :
1.      Diskusikan dengan orang yang tepat
Teman tidak selalu pihak yang tepat, apalagi jika hanya mengkonfirmasi hal-hal yang ingin di dengar. Teman seperti ini, hanya menambah pikiran dan beban emosional, tapi belum tentu punya solusi. Carilah orang yang mungkin saja punya pendapat dan jalan pikiran yang beda. Perbedaan itu membuat otak berpikir kritis dalam membaca persoalan, sehingga sedikit demi sedikit diperoleh gambaran yang obyektif akan apa yang sebenarnya terjadi. Cara ini membantu menentukan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan.
Hanya, ada catatan penting, bahwa pola ini efektif membawa hasil jika ada kerendahan hati untuk mau mengakui dan bisa melihat sikap/tindakan diri sendiri yang menyebabkan terjadinya masalah. Sikap defensive, membuat apapun saran dan tawaran solusi, mental. Sebaliknya, sikap defensive, baik itu berupa keengganan menerima kritik, malu kalau kelihatan kurangnya, sehingga menutup diri atau diam-diam saja seolah tidak terjadi apa-apa, membuat masalah tidak selesai, meski dengan berlalunya waktu. Waktu tidak menyelesaikan persoalan.
2.      Lakukan tanggung jawab kita
Tanggung jawab harian kita, adalah obat mujarab bagi setiap persoalan. Tanpa kegiatan, energy stuck, pikiran buntu, emosi membludak, kecemasan meningkat, kecurigaan dan pikiran negatif bertambah. Jadi, apa yang harus dilakukan, lakukanlah sebaik mungkin, seoptimal mungkin, bukan demi orang lain, tapi itu adalah anak tangga menuju jalan keluar dan kunci memelihara stamina mental serta  memberikan therapeutic effect. Jadi, jangan hindari apalagi hentikan kegiatan yang jadi tugas kita dengan dalih 'sedang tidak mood'.
3.      Jalani hobi dan kegiatan positif
Seperti uraian di atas, menekuni hobi adalah kegiatan nurturing our soul. Melepaskan tekanan, mengelola emosi dan menenangkan batin. Kita bisa berdialog dengan diri sendiri dan bahkan mendengarkan petunjuk bijak Tuhan, justru saat asik mengerjakan hobi.
4.      Berinisiatif untuk mencari solusi dan realisasikan dalam tindakan
Bergerak dan mengusahakan sekecil apapun tindakan, akan membawa perbedaan besar. Meskipun usahanya mentok, bukan berarti gagal, malah memberi pengetahuan baru bahwa perlu cara lain untuk melangkah berikutnya.
5.      Membuka diri, mau melihat sisi lain
Ibarat belajar, jangan hanya membaca dari 1 buku atau 1 orang dan menganggap itu satu-satunya yang paling baik dan benar. Coba cari teori dan penjelasan lain tentang masalah yang dihadapi, bisa dengan bertanya pada profesional yang accessible, baik secara langsung maupun tak langsung (lewat email/internet) banyak web site yang menyediakan informasi yang dibutuhkan remaja untuk membantunya memahami, apa yang sebenarnya terjadi.
6.      Membuka akses komunikasi yang baru 
Membuka jalur-jalur komunikasi yang baru, merintis jalur kegiatan baru dan membuka diri terhadap orang-orang yang punya kepribadian positif. Remaja bisa banyak belajar dari orang-orang yang jauh lebih matang dalam kepribadian dan pengalaman; karena orang-orang itu juga pernah jadi remaja dan mengatasi kompleksitas kehidupan  mereka saat itu. 
7.      Merubah kebiasaan
Tanpa sadar, banyak dari kebiasaan dan rutinitas yang malah memacetkan pertumbuhan kedewasaan dan penemuan diri. Rutinitas memang membuat nyaman, tapi jadi tidak sehat kalau kita takut merubah kebiasaan hanya karena takut kehilangan kenyamanan atau cemas menghadapi ketidakpastian dari sesuatu yang baru.  
8.      Berhenti meracuni diri sendiri
Banyak orang yang ketika sedang emosional, punya kebiasaan meracuni diri sendiri. Merokok, minum, narkoba, bahkan overeating atau malah tidak mau makan sama sekali, adalah tindakan meracuni diri. Tidak hanya itu, entertaining asumsi buruk, kecurigaan terhadap orang lain, berpikir negative tentang diri sendiri, memendam marah, sakit hati, sedih, benci dan iri, adalah bentuk lain dari meracuni diri. Berbagai hal itu perlu di kelola dan di buang dengan cara yang tepat dan sehat, supaya tidak berdampak negative buat diri sendiri maupun orang-orang di sekeliling kita. Istilah kerennya, GIGO – garbage in, garbage out. Kalau yang dimasukkan buruk, maka yang keluar juga buruk, pikiran buruk akan menghasilkan tindakan buruk, tindakan buruk akan menghasilkan reaksi buruk dari sekeliling.  Mulailah bertindak selektif, kalau tidak positif – yauntuk apa di lakukan kalau nantinya hanya merugikan diri sendiri, apalagi orang lain.  
9.      Berpikir Positif
Prinsip yang harus di yakini, bahwa selama hidupnya, manusia pasti menghadapi masalah karena dari masalah kita belajar menjadi bijak, pandai dan dewasa. Jadi, krisis dan masalah bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal dari perjalanan, bekal dalam menempuh petualangan hidup. Carilah segi positif dari masalah yang sedang dihadapi, pasti ada manfaat di balik semua ini. Orang mengatakan “blessing in disguise”.  
10.  Bantulah orang lain
Setiap orang pasti punya masalah, berat ringannya tergantung persepsi dan kemampuan masing-masing.  Kita suka menganggap masalah kita yang paling berat,  padahal banyak masalah teman-teman dan orang di sekeliling kita yang punya masalah jauh lebih berat. Kita tidak tahu karena kita tidak cukup membuka diri terhadap mereka, menyediakan diri untuk memahami kehidupan mereka. Pikiran kita terfokus pada masalah kita sendiri sampai tidak tahu kalau ada teman yang kesusahan atau tetangga yang perlu bantuan. Nah, buatlah diri kita berarti bagi orang lain. Tidak usah harus menjadi pahlawan, lakukan saja apa yang semestinya dan bisa kita lakukan untuk meringankan beban hidup orang lain. Kita bahagia kalau kita bisa membantu orang lain. Bukankah kita hidup di dunia ini untuk bisa membawa  kebaikan dan berkah bagi sesama?
Meskipun masalah remaja begitu kompleks, namun di dunia ini juga sudah tersedia jawaban dan solusinya. Kuncinya, remaja perlu bereksplorasi dan proaktif dalam menempuh petualangan hidupnya. Ketakutan dan berbagai perasaan itu pasti ada, tapi jangan sampai dijadikan alasan untuk berhenti berjalan. Persoalan saat ini jangan menjadi akhir dari segalanya.  Perjalanan hidup masih panjang, masih banyak petualangan menarik untuk dilalui. Pandai-pandai mengelola perasaan dan persoalan selama berpetualang, sementara jangan kehilangan focus ke masa depan. Teruslah melangkah dan nikmati setiap moment dalam hidup ini sebagai anugerah kehidupan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penyesuaian Diri Peserta Didik Usia Menengah (PDUSM)"

Post a Comment

Silahkan berkomentar :)
saran dan masukan sangat berarti bagi kita semua
let's share knowledge together ^^